Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, 29 September 2019

Cerpen (Cerita Pendek) Pelajaran Kimia ALKALI

ALKALI (LAFADZ ALLAH)c
Habis Manis Sempah Dibuangc
                Inilah Aku, Aku adalah seorang baterai, yang bernama Optimis Prima. Aku sudah terkenal  di Dunia manapun kecuali di Akhirat. Aku suka nonkrong dibeberapa Warung, pertokoan, swalayan, bahkan mal-mal besar. Aku sering dijual belikan oleh monster-monster. Bahkan berpindah pindah tangan. Dan diriku selalu menunggu sampai ada Orang yang menghampiriku dan membeliku. Di dalam tubuhku banyak elemen-elemen, unsur-unsur Kimia. Seperti tubuhku Diriku bermanfaat bagi orang banyak yang terbuat dari sel Volta, mukaku terbuat dari Seng, tulang- tulang, diriku terbuat dari katode merkuri. Dan Makanan Kesukaanku adalah kalium hidroksida dan minuman-minuman favoritku adalah elektrolit-elektrolit  yang menyegarkan membuat tubuhku begitu kekar,sehat, dan bugar. Hidupku hanya sekali dan bahkan tidak lama sekali bahkan tidak lama hanya beberapa bulan saja, bahkan paling lama 3 bulanan. Didalam tubuhku ada logo tambah dan kurang.
            Ketika dimasukkan oleh kutub-kutub yang berlawanan energiku akan disedot. Dan musuh terbesarku adalah Jam Raksasa, dan senter skeleton. Jam Raksasa  elektron adalah seorang jam dinding yang sangat menyeramkan yang dapat menyiksik bawang tubuhku dan selalu mengambil energi-energi dan arus-arus listrik kepunyaanku. Untuk Keperluan dirinya dan memuaskan agar jarumnya-jarumnya berputar. Senter Skeleton adalah  seseorang yang selalu mengeluarkan  cahaya kimia yang berbahaya kalau diarahkan kemata dalam beberapa menit, jam atau harian yang dapat menimbulkan kebutaan.
            Dirinya selalu mengambil energi dan arus listrik diriku sama seperti Jam Raksasa elektron tanpa henti dan tanpa,  minta ampun sampai diriku mati dan habis. Begitulah seterusnya diriku selalu diambil energinya lalu dibuang dan dihancurkan oleh monster-monster  kedalam sebuah kotak yang sangat mengerikan lalu ditumpukan dan dipindahkan ke Pabrik daur ulang dan isi kembali begitulah dan menjadi Baru. Entah Sampai kapan kehidupanku seperti ini. Sampai ada pertolongan Allah dan orang yang baik menolongku.tm
                                                                                                           


Friday, 20 December 2013

Cerpen - Menolong Itu Menyenangkan


MENOLONG ITU MENYENANGKAN

Quantcast
Karya : Retno W
Sumber : UMMI, No. 4/XVI 2004 M / 1425 H

Sabtu siang Rosidah pulang sekolah dengan kecewa dan sedih.  Sepanjang jalan ia diam membisu.  Tak dihiraukannya teman-temannya yang asyik bercanda ria.  Langkah anak kelas 5 SD itu gontai, menyusuri tepian jalan menuju rumahnya.
Tadi di sekolah, diumumkan siapa saja yang masuk pasukan khusus pramuka.  Betapa kecewanya, ternyata ia tidak lolos.  Padahal ia sangat menginginkannya.  Ia kini hanya anggota biasa yang tidak mendapat prioritas jika ada kegiatan di luar sekolah.  Padahal ia sudah berusaha keras.  Dipelajarinya tali-temali, morse, dan lain-lain dengan sungguh-sungguh.  Tapi rupanya masih gagal.  Padahal Devi, sahabatnya, bisa lolos.  Rasanya ia ingin menangis saja.
Apa yang harus dikatakannya pada ibu nanti?  Mungkin ibu tidak marah.  Tapi ibu pasti kecewa.  Bagaimana tidak, Ibu kan pembina pramuka di SMP tempat Ibu mengajar.  Masak anaknya justru gagal masuk pasukan khusus.  Malu kan?
Teman-temannya sudah jauh meninggalkannya.  Kini ia berjalan sendiri sambil melamun.  Ah, andai saja ia tidak gagal.  Ia tentu mewakili sekolahnya di luar kota.  Pasti senang sekali.  Ia bisa ikut banyak kegiatan dan mendapat teman baru dari sekolah-sekolah lain.
“Ciiit… brak!” suara keras menyadarkannya.  Tak jauh dari tempatnya berjalan tampak seorang anak kecil kira-kira berusia 5 tahun jatuh, tertabrak sepeda motor.
Rosidah berlari medekati mereka.  Anak kecil itu menangis.  Kakinya lecet dan tangannya luka.  Darah mengalir dari luka itu.  Sementara itu, bapak yang mengendarai motor tampak pingsan di dekat motornya yang roboh.  Rosidah menengok ke sana dan kemari.  Sepi.  Kanan kiri jalan adalah persawahan dan tak ada orang yang lewat.  Wah, bagaimana ini?
Sejenak Rosidah kebingungan, tak tahu apa yang harus diperbuat.  Aku harus segera menolong mereka, pikirnya.  Dikeluarkannya sapu tangan pramukanya dari tas, lalu diikatnya pada lengan anak kecil itu.  Semoga dapat mengurangi perdarahannya.  Setelah itu diberinya anak itu air minum dari bekal sekolahnya.
“Tenang ya, Dik.  Jangan menangis.  Kakak akan segera mencari pertolongan”, hibur Rosidah.  Ia lalu berlari melihat keadaan bapak yang sedang pingsan.
“Pak… Pak… sadar Pak.  Bangun Pak”, Rosidah mencoba membangunkan bapak itu.  Dilihatnya tak banyak luka atau darah, tapi kok pingsan.  Digoyang-goyangkannya bahu bapak itu pelan.  Tak berapa lama bapak itu membuka matanya dan mengerang kesakitan.
“Aduuh… kakiku, aduuh…!” erang bapak itu saat mencoba untuk bangun.  Tampaknya ada yang tak beres.  Ketika Rosidah mencoba menyentuh kakinya, Bapak itu semakin menjerit kesakitan.  Oh, mungkin kakinya patah!
“Bapak diam saja di sini”, kata Rosidah.  Ia segera berlari menuju ke perkampungan.  Ia harus segera mencari pertolongan.  Tak dihiraukannya keringat yang membanjiri tubuh mungilnya.
Sesampai di perkampunga, Rosidah menceritakan kecelakaan itu pada orang ditemuinya.  Orang itu segera memanggil warga lain.  Mereka kemudian berbondong-bondong mendatangi tempat kecelakaan itu dan segera memberikan pertolongan.  Korban kecelakaan segera dibawa ke rumah sakit.
Rosidah bernafas lega.  Semoga mereka akan baik-baik saja.  Ia lalu melangkah ringan meninggalkan tempat itu.
Assalamualaikum…” salam Rosidah begitu memasuki rumahnya.
Waalaikum salam…” jawab ibu.  Rupanya Ibu sudah sampai di rumah lebih dulu.  “Kok pulangnya terlambat.  Biasanya Ida datang lebih dulu dari Ibu”, kata Ibu.
“Iya Bu.  Tadi ada kecelakaan”, Rosidah lalu menceritakan tentang kecelakaan itu pada Ibu.  Ibu mendengarnya dengan penuh perhatian.
“”Hmm… Ibu bangga pada Ida.  Ida telah berbuat baik, menolong orang lain”.
“Bangga?  Ida tidak bisa dibanggakan, Bu.  Karena…” kata-katanya terputus.  Rosidah ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Karena apa?”
“Ibu jangan marah ya, Ida tidak masuk pasukan khusus pramuka.  Ida gagal dan hanya menjadi anggota biasa”.
Ibu tersenyum dan membelai rambutnya.  “Ibu tidak marah.  Menjadi pasukan khusus memang bagus, tapi anggota biasa juga bagus kok.  Yang kamu lakukan tadi sudah mencerminkan sikap muslim yang baik.  Suka menolong siapa saja, tidak penting apakah itu pasukan khusus pramuka atau tidak.  Lagipula anak yang sudah menolong akan dicintai oleh Allah.  Bukankah itu yang paling penting?”
“Terima kasih, Bu…” Rosidah mencium pipi Ibu.  Ternyata ibu tidak marah dan tidak kecewa.  Bahkan Ibu bangga padanya.
“Wah… sapu tangan pramuka milik Ida terbawa anak itu ke rumah sakit, Bu”.
“Ya sudah.  Nanti sore kita beli di kedai pramuka.  Sekarang, ganti bajumu!  Cuci kaki dan tangan, terus makan bersama ibu.  Ibu sudah kelaparan menunggumu”.
Rosidah tertawa.  Ia segera berlari masu kamar.  Setelah ganti baju dan cuci tangan, Rosidah makan bersama Ibu.  Wajahnya tampak berseri-seri.  Hilang sudah kesedihan dan kekecewaannya.  Ia makan dengan lahap.  Sayur bayam dan tempe goreng terasa lezat sekali.  Menolong orang lain ternyata menyenangkan dan membuat hati gembira.  Alhamdulillah

Cerpen - Selembar Uang 5000


Selembar Uang 5000

Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan untuk membujuknya.
“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.
“Mungkin dia lapar, Sri.”
“Mungkin iya, Mbak.”
“Tadi anakmu sudah makan belum ?”
“Belum.”
“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”
Sri tersenyum. Menelan ludah yang terasa kian hambar di lidah yang sejak kemarin belum kemasukan makanan. Tawar dan getir adalah hiasan hidupnya.
“Kok malah senyam-senyum. Wong anak sedang rewel kok dibiarkan.”
“Anu, Mbak. Saya belum masak hari ini.” Jawab Sri dengan suara tercekat.
Kening Wati berlipat seketika. Matanya menatap jam dinding yang sedang bergerak menunju angka sepuluh.
“Sampai siang begini belum masak? Kenapa?”
“Ehm… “ Sri agak canggug meneruskan kalimatnya. “Beras kami habis.”
Wati mulai menangkap permasalahan Sri, yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Nasibnya dengan Sri tidak jauh berbeda. Hanya saja Wati belum dikaruniai anak meskipun telah menikah hampir lima tahun.
“Kalau habis, kenapa tidak beli Sri?” Pancing Wati.
“Sebenarnya pengen beli, Mbak. Tapi… kami sedang tidak punya uang.” Wajah Sri menunduk, menyembunyikan rasa sedih yang telah menjadi teman dalam kesehariannya.
Sri tahu, tak ada gunanya berpura-pura di depan Wati. Wanita itu tahu persis bagaimana kehidupannya. Hanya saja Sri tidak enak hati kalau dengan keterusterangannya membuat Wati iba dan ikut bingung mencari jalan keluarnya. Bagaimanapun Sri juga menyadari kalau nasib Wati juga tidak lebih baik darinya. Mereka sama-sama perantau dari kampung yang ingin merubah nasib di kota seperti Surabaya. Hanya saja rumah petak mereka letaknya agak berjauhan.
“Kami menunggu Bapaknya Dian pulang.” Ucapnya lirih. Tangan kusamnya mengelus kening Dian, anak semata wayangnya yang telah tenang. Sebenarnya Sri tak yakin dengan ucapannya. Pekerjaan suaminya yang hanya penarik becak tidak bisa diharapkan setiap saat. Padahal tiap hari mereka harus memberi setoran kepada juragan becak. Sejak kemarin ia dan suaminya belum makan. Hanya minum air putih yang diberi sedikit gula. Segenggam beras yang tersisa dia buat bubur untuk anaknya. Dan hari ini Sri benar-benar tidak memliki apa-apa. Hanya beberapa sendok gula di toples. Sri dan suaminya memilih mengalah. Air gula yang ada mereka berikan untuk Dian.
“Sri.” Sapa Wati lembut. “Kamu tidak biasa hutang?”
Sri menggeleng lemah. Ia begitu memegang erat wejangan suaminya agar tidak membiasakan berhutang. Hutang hanyalah jerat yang bisa mencekik setiap saat. Apalagi tak ada yang bisa dijadikan jaminan untuk membayar jika si peminjam suatu saat datang menagih. Itulah prinsip yang ditekankan suaminya.
Wati trenyuh. Perasaan iba muncul tanpa bisa dicegahnya. Apalagi saat matanya menatap Dian yang telah pulas dalam gendongan Sri. Dian begitu pucat. Wajahnya tirus dengan perut yang agak membuncit. Kulitnya bersisik kasar karena kurang vitamin. Tanda-tanda kekurangan gizi tampak jelas di tubuhnya.
Hening. Semua tenggelam dalam angan masing-masing.
“Aku ada uang lima ribu.” Wati menyodorkan selembar lima ribuan kepada Sri. “Pakailah.”
Sri terkejut. Ia pandangi wajah Wati dan uang yang berada di tangannya bergantian. Ia yakin tetangganya dari kampug itu juga sedang membutuhkan uang. Suami Wati baru saja sakit. Pasti belum bisa menarik becak seperti suaminya. Apalagi saat ia teringat dengan pesan suaminya.
“Jangan, Mbak. Pasti Mbak Wati juga membutuhkannya. Insyaalah saya masih bisa bertahan sampai bapaknya Dian pulang.”
“Aku percaya kalian masih bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan Dian? Dia sudah begitu kurus. Dia bisa sakit Sri. Kalau sampai itu terjadi pasti biayanya akan lebih mahal. Aku yakin kamu juga tidak tahu kapan suamimu pulang.”
Sri mendesah. ibu mana yang tega anaknya sampai kekurangan gizi. Ia pun sebenarnya iba melihat nasib Dian. Ditatapnya wajah Dian yang begitu tenang. Sebutir cairan bening mengumpul memenuhi sudut-sudut matanya.
“Tapi kalau uang ini aku pinjam, bagaimana dengan Mbak Wati?”
“Tenang Sri. Aku biasa pinjam ke warung dekat rumah. Mas Darmin juga sudah sembuh. Insyaalah besok sudah bisa narik lagi.” Jawaban Wati tidak membuat Sri lega. Tapi Sri benar-benar tidak punya pilihan saat itu.
“Terimaksih, Mbak. Nanti kalau bapaknya Dian dapat uang pasti segera kukembalikan.”
“Ya sudah, cepet belanja. Aku pamit dulu. Nanti Mas Darmin bingung kalau aku tidak segera pulang.”
“Iya, iya Mbak. Sekali lagi terimaksih, Mbak.”
* * *
Derit roda sayup terdengar. Roda yang selalu berputar meyusuri setiap jengkal jalan hidupnya. Setiap deritnya selalu meberikan harapan bagi Sri dan Yanto. Harapan itulah yang membuat mereka sanggup bertahan hidup. Ia yakin nasibnya berjalan seperti roda. Kadang dibawah, namun suatu saat roda itu pasti akan bergerak ke atas. Meskipun putaran roda kehidupan itu dirasanya berjalan sangat lambat untuk bisa mencapai puncak.. Tapi roda itu tidak boleh berhenti. Harapan dan impian telah membuat roda itu tetap berputar. Bergerak. Menggelinding. Meski perlahan.
“Assalamualaikum.” Suara yang begitu dikenal muncul dari arah pintu triplek.
“Wa’alikum salam.” Sri segera menyambut dan mencium tangan si empunya suara.
Sri menatap wajah suaminya dengan mata berbinar. Yanto dibuat tak enak hati karenanya. Wajahnya pias melihat tatapan isrtinya.
“Maafkan aku, ya.” Suara Yanto tedengar berat. “Ternyata hari ini pun aku gagal mendapatkan uang lima ribu yang kujanjikan pagi tadi.” Wajahnya menunduk, takut melihat reaksi istri tercintanya.
Sri tak kaget. Ia sudah menduganya. Tangannya menggandeng tangan suaminya menuju ruang tengah yang berfungsi sebagai tempat makan sekaligus ruang tidur.
“Mas yanto pasti capek dan lapar. Sekarang, Mas makan dulu.” Ajak Sri lembut sambil membuka tudung nasi..
Yanto terlonjak. Ia tak percaya melihat hidangan istimewa di depannya. Sebakul nasi putih yang megepul hangat, semangkuk sayur bayam dan beberapa potong tempe telah tersaji rapi di atas meja kayu yang kakinya telah lapuk.
“Dari mana semua makanan ini, Sri?” Tanya yanto dengan suara gagap.
“Sudahlah, Mas Yanto makan dulu. Dari kemarin sampeyan belum makan. Kalau sampe Mas Yanto sakit, kita semua akan semakin repot.” Tangan Sri telah menyendok nasi ke piring untuk Yanto. Dengan cekatan, Sri menambahkan sepotong tempe dan sesendok sayur di atasnya.
“Tapi semua ini dari mana, Sri?” Tanya Yanto sekali lagi.
“Saya akan cerita kalau Mas Yanto mau makan.”
Yanto menurut. Dengan ragu tangannya menyendok nasi dari piring. Setelah yakin suaminya menikmati makanannya, barulah Sri bercerita.
“Mas, tadi Mbak Wati sepulang mencuci dari Bu Handoyo mampir.” Sri diam sejenak. Melihat reaksi suaminya. Kemudian mengalirlah kisah hidupnya sepagi tadi sampai akhirnya semua hidangan istimewa dapat tersaji di meja makan mereka.
Uhuk!Uhuk!
Yanto tersedak. Buru-buru Sri menuangkan air putih ke gelas plastik yang di dekatnya.
“Pelan, Mas. Nggak usah buru-buru.”
Yanto diam. Menatap wajah istrinya dalam-dalam. Begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan kepada istrinya. Tapi mulutnya tetap terkunci. Ia tidak pernah tega menyakiti wanita yang begitu rela menemaninya hidup menderita. Tapi Yanto sangat gusar mengingat kejadian yang dialaminya sebelum pulang ke rumah.Rasa nikmat yang baru didapatnya lenyap seketika. Menu istimewa yang ada di depannya tidak lagi menggoda selera makannya. Hambar. Itulah yang dirasakan lidahnya saat ini.
“Kenapa kamu mau menerima uang dari Mbak Wati?” Jelas terdengar suara Yanto begitu berat.
“Sebenarnya sudah kutolak, Mas.
Tapi Mbak Wati memaksa. Ia tidak tega melihat Dian, anak kita. Aku juga tidak tega kalau sampai Dian jatuh sakit karena tidak makan apa-apa. Pasti nanti kita akan butuh uang lebih banyak untuk mengobati Dian. Akhirnya aku pun menerima uang lima ribu itu. Maafkan aku, Mas. Aku tahu Mas tidak suka hutang. Tapi kita sedang tidak punya pilihan.” Ada rasa bersalah dalam nada bicara Sri. Wajahnya menunduk. Ia pun tidak berselera untuk melanjutkan sarapan yang sekaligus juga makan siang.
“Sri, sebelum pulang aku tadi mampir menjenguk Mas Darmin.Tak kulihat makanan di rumahnya. Ia sedang menunggu Mbak Wati yang meminjam uang pada Bu Handoyo setelah mencuci.” Yanto diam sejenak. Mengatr nafas yang semakin tidak teratur. “Aku semakin tidak tega saat melihat Mbak Wati diomeli pemilik warung ketika akan berhutang lagi. Apa kamu tega makan semua ini, Sri?” Yanto berdiri. Tangannya menyambar topi lusuh yang tergeletak di kursi.
“Mas Yanto mau kemana?”
“Keluar.
Mencari uang untuk mengganti uang Mbak Wati.” Yanto melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Sri terpaku. Memandangi punggung suaminya yang basah oleh keringat.
Ada perih di hatinya. Ada rasa bersalah yang begitu desak-mendesak dadanya. Sebutir bening telah menggantung di kedua sudut matanya.
Ia segera bergegas membungkus semua makannnya. Tak ada cara lain. Ia harus mengantarkan makanan itu untuk Wati.
“Mbak Wati, maafkan aku.”
Ucap Sri hampir tak terdengar.

Cerpen Negeri Angin



Negeri Angin
Oleh: Yulisa Farma
Telah terbit di Koran
Harian Singgalang, 25 Mei 2008

Hari sudah larut malam, namun Maru belum juga tidur. Ia masih teringat dengan film Doraemon yang ditontonnya tadi pagi. Film itu berjudul Negeri Angin. Maru selalu membayangkan kalau dia ada di Negeri Angin. Tapi, kata Mama itu hanya dongeng. Namun, Maru gak pernah percaya dengan kata Mamanya. Maru percaya bahwa Negeri Angin itu ada. Pagi datang bertamu di kaca jendela Maru, waktunya sekolah. Pulang sekolah, Maru masih saja memutar film yang dibelikan Mamanya itu, Doraemon. Maru membayangkan hidup di Negeri Angin, dimana semuanya memakai kekuatan angin. Maru memang tahu kalau itu hanya dongeng, tapi entah kenapa hati kecilnya menolak. Seminggu sedah berlalu, tapi Maru tetap saja memutar film itu. Hal ini membuat Mama marah, karena maru tak mau membuat tugas sekolah.

“Sudah cukup nontonnya, Maru. Sekarang waktunya belajar. Kalau nonton terus, bisa-bisa pelajaranmu tertinggal,” kata Mama.

“Iya, Ma. Sekarang Maru mau matiin TV,” jawab Maru dengan patuh.

Maru masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia mulai duduk di kursi meja belajarnya dan mulai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Maru sedikit kesulitan, karena ada salah satu kata yang tak dimengerti dan yang dibutuhkan Maru adalah kamus Bahasa Indonesia. Kamus itu hanya ada di perpustakaan pribadi Papanya. Papa Maru adalah seorang sastrawan, namun beliau sudah meninggal akibat kecelakaan. Jadi, yang tersisa hanya kenangan dan perpustakaan yang selalu dijaga Maru. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menuju tempat tersebut. Banyaks ekali buku-buku lama yang masih tersusun rapi, namun sedikit berdebu. Ada ribuan buku di sana, mungkin lebih. Hal ini membuat Maru sedikit kesulitan. Tak cukup 15 menit, akhirnya Maru menemukan kamus Bahasa Indonesia. Sewaktu maru menuju ke luar, sekilas ia melihat sebuah buku yang lumayan tebal. Maru melihat buku itu dekat-dekat dan membaca judulnya. Buku tersebut berjudul “Negeri Angin.” Ia sangat penasaran dengan buku berwarna coklat tua tersebut dan langsung membawanya ke kamar. Maru langsung mengunci kamarnya dan duduk di kursi belajarnya.

“Wah, ternyata Papa juga suka kisah Negeri Angin,” katanya sambil tersenyum.

Maru sangat penasaran dengan isinya. Sewaktu ia membuka buku itu, maru melihat lubang kecil di tengah buku. Baru Maru sadari bahwa buku tersebut telah menyedot tubuhnya perlahan demi perlahan. Bangku yang diduduki maru menjadi kosong. Maru menghilang dan masuk ke dalam buku tersebut. Aneh bin ajaib, tiba-tiba saja Maru berada di Negeri yang sangat asing baginya. Maru berada di padang rumput yang sangat luas. Maru melihat semua hewan-hewan bertebangan. Hewan tersebut tak mempunyai sayap, seperti ikan, beruang, anjing dan masih banyak lagi. Maru kaget dan baru menyadari bahwa dirinya sekarang berada di Negeri Angin. Maru berharap ini hanyalah mimpi, ia mencubit pipinya dan terasa sakit.

“Benarkah ini Negeri Angin?” tanya maru.

“Benar. Ini adalah Negeri Angin,” jawab seseorang yang sudah dari tadi berada di belakang maru.

Maru kaget dan berteriak. Ia melihat seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Namun, anak itu melayang diatas benda seperti piring alien, tapi mirip penyaring santan yang sering digunakan Mamanya di dapur. Selain itu, di tangan anak itu juga terdapat benda seperti baling-baling putar.

“Si… siapa kau?” tanya maru gugup. Anak itu tersenyum dan turun dari benda tersebut.

“Aku Ken. Aku adalah penduduk Negeri Angin. Kau siapa? Sepertinya aku tak pernah melihatmu,” kata Ken balik bertanya.

“Aku Maru, aku tinggal di Bumi. Aku juga tak tahu bagaimana sampai disini. Sewaktu aku membuka sebuah buku, tiba-tiba saja aku disedot oleh buku tersebut,” jelas maru.

“Oh begitu. Berarti kau tersedot dari Negeri lain. Kalau begitu ikut saja denganku. Aku akan membawamu ke rumah,” saran Ken.

Maru langsung menurut, karena ia takut sendirian. Ken menyuruh maru untuk naik ke benda aneh tersebut. Ken menjelaskan bahwa benda yang membawa mereka terbang bernama piring angin. Piring angin inilah yang membawa manusia angin untuk terbang. Benda yang ada di tangan Ken bernama baling-baling, gunanya untuk mengumpulakan angin. Supaya angin berkumpul, baling-baling harus diputar terlebih dahuli, baru piring angin bisa melayang di udara. Setelah Maru menaiki piring angin, benda tersebut terbang dan melayang di udara.

Maru kaget sekaligus senang, karena mimpinya menjadi kenyataan.

Sampailah mereka di rumah Ken.
Rumahnya sangat sederhana, tapi sangat indah karena dipenuhi taman-taman dan bungan yang bermekaran. Apalagi keluarga ken sangat ramah kepada Maru. Semua pekerjaan yang ada di rumah Ken, semuanya dilakukan dengan kekuatan angin, seperti pakaian kotor yang hanya dibersihkan dengan angin, paralatan makan yang kotor pun juga begitu. Ken membawa maru berjalan-jalan mengelilingi negeri itu dengan piing angin miliknya. Tak ada motor atau pun mobil. Semua kendaraan yang ada disana terbuat dari piring angin. semua dilakukan dengan angin. Di tengah padang rumput terdapat kincir angin raksasa. Ken juga membawa Maru ke taman yang sangat indah dan dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Tak terasa hari sudah menjelang sore, waktunya mereka pulang untuk mengisi perut. Saatnya keluarga Ken berkumpul di meja makan. Maru kangen dengan mamanya, ia ingin pulang. Mamanya pasti kesepian di rumah. Maru sadar bahwa hidup di negri asing tak sepenuhnya menyenangkan.

“Ada apa, Maru? Dari tadi aku melihatmu gelisah,” tanya Ken.

“Anu, aku kangen sama Mamaku. Aku ingin sekali pulang ke rumah,” jawab maru.

“Oh, kalau begitu pulang saja dulu, kapan-kapan kan kita bisa ketemu lagi,” saran Ken.

“Iya, tapi aku tak tahu jalan pulangnya,” ucap maru sedikit sedih.

Sedikit bingung, Ken bertanya kepada orang tuanya. Ternyata buku yang ada di rumah maru ada sepasang, yang satu ada di negeri angin, yang satu lagi ada di Bumi. Dengan itu, negeri angin dan bumi dapat berkomunikasi dengan baik. Maru menanyakan dimana letak buku yang satunya lagi. Ternyata buku tersebut berada di perpustakaan negeri angin. Sebelum mereka berangakat ke perpustakaan, Maru mengucapkan terima kasih kepada keluarga Ken, karena sudah berbaik hati membiarkan Maru tinggal di rumah mereka. Mereka berharap maru mau berkunjung lagi ke negeri angin. Maru diantar oleh Ken dan membantunya untuk mencari buku tersebut. Setelah sampai di perpustakaan, mereka langsung berpencar mencari buku tersebut. Setelah setengah jam mencari, akhirnya apa yang mereka cari diketemukan.

“Hei, Maru! Aku menemukannya,” kata Ken gembira.

“Oh ya?” kata maru senang.

Sebelum maru membuka buku tersebut. Ia mengucapkan salam perpisahan kepada Ken.
“Ken, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” ucap maru sedih.

“Iya, maru. Seringlah main kesini. Aku pasti merindukanmu,” tutur Ken dengan sedih.

“iya, kapa-kapan aku akan kesini lagi. Aku janji, kita akan main bersama lagi,” ucap Maru dengan penuh semangat.

“Bawalah baling-baling angin ini sebagai kenang-kenangan, jagalah selalu,” kata Ken sambil memberikan baling-baling itu kepada maru.

Maru menerimanya dengan senang hati. Ia berjanji akan menjaga baling-baling yang diberikan Ken. Setelah mereka mengucapkan salam perpisahan, perlahan maru membuka buku yang ada di genggamannya itu. Setelah terbuka lebar, maru merasa badannya disedot oleh sesuatu. Hal terakhir yang dilihat maru di negeri angin adalah senyuman Ken dan lambaian tangannya. Maru sangat senang bahwa tahu ia telah berada di rumah. Maru langsung mencari Mamanya yang sedang memasak di dapur. Maru langsung memeluk Mamanya erat sekali. Mamanya sangat kaget, karena tumben-tumbennya maru seperti ini. Namun, ia membalas pelukan anak semata wayangnya itu dengan lembut. Maru baru sadar akan perbedaan waktu di negeri angin dan bumi. Satu jam di Bumi itu sama artinya sehari di negeri angin.

“Aku akan ke sana lagi. Aku janji,” bisik Maru dalam hati sambil menggenggam erat baling-baling yang diberikan ken.